PELANGI

Part1

    Hari ini masih bulan Juni, tapi langit nampaknya sudah tidak sabar untuk menumpahkan air ke bumi. Panas yang menyelimuti hari kini berganti basah. Dan dingin.

    Sisi memandangi titik-titik hujan yang membasahi jendela kantornya dilantai empat. Hari ini ia punya janji dengan Lena untuk membeli gaun untuk ke pesta besok. Tapi ia tidak membawa payung. Musim panas begini membuatnya emoh membawa benda berharga itu. Tapi apa mau dikata, hujan turun tanpa diundang !

            “Si, tidak pulang?“

            Sisi menengok ke asal suara. Hardy, sang manajer.

            “Hujan.“

            “Kau tidak membawa payung?“

            Sisi menggeleng.

            “Mau pulang bersamaku? Kebetulan aku akan ke arah rumahmu.“

            Dengan cepat Sisi menggeleng. “Thanks. Aku ada janji dengan Lena.“

            “Mau ke mana?“ selidik Hardy.

            Sisi mengkerutkan keningnya. Kenapa sih bosnya yang satu ini selalu mau tahu apa yang akan dilakukannya ? gerutu Sisi dalam hati.

            Melihat wajah Sisi yang memasang tampang tidak suka, Hardy buru-buru meralatnya.

            Sorry. Kupikir, kalau kalian searah denganku, kalian boleh kok ikut mobilku.“

            No, thanks.“ Jawabnya cepat.

            Itu sudah cukup mengusir Hardy agar menjauh.

            Kembali Sisi memandang hujan dari balik jendela. Untuk ke Mall yang akan ditujunya tidaklah jauh. Hanya diseberang jalan raya dari kantornya. Tapi untuk menjangkau ke sana ia harus menggunakan payung. Kalau menggunakan taxi, itu akan makan waktu lama untuk berebutan dan macet sewaktu berputar arah. Sisi menimbang-nimbang apakah ia akan nekad menerobos hujan lebat atau membatalkan rencananya. Kalau ia menerobos hujan, ia pasti sakit. Padahal baru seminggu ini ia masuk kerja kembali setelah dua minggu tergeletak sakit. Tapi kalau ia batalkan, Lena pasti akan kecewa. Gaun itu sudah ditaksirnya selama sebulan. Dan ia ingin mengenakannya pada saat pesta besok.

            Di loby depan Sisi kembali termangu. Tadi Lena mengirimkan pesan bahwa ia telah sampai ditempat yang mereka janjikan. Gadis itu terlalu bersemangat, keluh Sisi.

            Untunglah hujan tidak lagi turun dengan lebat. Tapi rintiknya masih tetap menyirami jalan yang sudah basah.  Selintas dilihatnya pancaran warna-warni pelangi dicakrawala.

            “Maaf, Anda mau ke seberang?“  tanya Sisi pada seorang laki-laki dengan payung besar yang terlihat hendak ke tujuan yang sama.

            Laki-laki yang ditanya memandangnya sejenak dan mengangguk.

            “Boleh aku menumpang payungnya?  Kebetulan aku tidak membawa payung.“

            Kembali laki-laki itu mengangguk dan memberi tempat disisi kirinya untuk Sisi. Disepanjang jalan Sisi mengkerutkan tubuhnya untuk menghindari cipratan hujan. Sesekali tubuhnya menyentuh tubuh tinggi disebelahnya.

            “ Terima kasih. “ ucap Sisi setelah mereka sampai diseberang.

            Laki-laki itu kembali mengangguk. Lalu tanpa banyak basa-basi, Sisi melesat masuk ke dalam mall untuk menemui Lena.

            Pagi itu, Sisi melihat laki-laki yang Jumat kemarin memberinya tumpangan payung. Sisi ingin melambai kearahnya. Tapi pintu lift keburu tertutup dan membawanya ke lantai empat. Ada sedikit rasa kecewa dihatinya. Menyesal sekali kemarin ia tidak memperhatikan laki-laki itu. Padahal laki-laki itu cukup tampan.

            Siang itu, Sisi terburu-buru turun ke kantin. Siapa tahu laki-laki yang kemarin juga makan disitu ? pikirnya.  Di Kantin yang terletak di basement gedung, Sisi memperhatikan orang-orang yang tengah duduk ataupun lalu lalang. Tapi tidak ditemuinya sosok laki-laki bertubuh tinggi itu.  Dengan kecewa, dibawanya baki makannya ke meja disebelah pojok. Dari situ ia bisa melihat hampir ke semua penjuru ruang.

            Sisi hampir saja bersorak senang ketika dilihatnya sosok yang ditunggunya muncul. Tapi belum lagi senyumnya merekah, Sisi sudah menariknya kembali. Ia melihat laki-laki itu datang bersama seorang wanita cantik. Pupus sudah harapannya untuk menemui laki-laki jangkung itu. Dengan kesal Sisi ke luar dari sana.

            Sudah empat kali berturut-turut Sisi bertemu dengan laki-laki itu di depan lift. Tapi Sisi sengaja menghindarinya. Sekali waktu ia mengurungkan masuk ke dalam lift yang belum penuh. Diwaktu yang lain Sisi berpura-pura tidak melihatnya. Padahal Sisi merasa tatapan tajam laki-laki itu tertuju padanya. Tapi masa bodoh.  Toh, mereka tidak saling kenal. Lagipula saat itu mereka secara tidak sengaja bertemu. Itu saja, tidak lebih.

            “Si, aku ingin makan di cafe baru di mall. Kau mau ikut?“ tanya lena diseberang.

            Sorry, Len. Aku harus lembur hari ini. Besok ada tender, jadi aku harus menyiapkan semuanya.“

            “Yah, sayang betul. Padahal hari ini ada potongan dua puluh persen. Bayangkan, makan makanan enak dengan potongan segitu besar.“ bujuk Lena.

            “Memang sih pastinya asyik. Tapi tender ini tidak bisa kompromi, Non. Aku titip perut saja deh.“

            Dengan kecewa Lena menutup gagang telepon.

            Kalau saja tidak ada tender mendadak, pasti Sisi akan ikut bersamanya. Tapi berkas-berkas ini besok akan dibawa oleh Hardy ke semarang untuk ikut tender dengan instansi pemerintah.

            Sudah jam delapan lewat lima belas malam ketika Sisi menyelesaikan pekerjaannya. Baru terasa tubuhnya pegal karena seharian mengetik didepan komputer.

            “Mau kuantar, Si?“ tanya mbak Maya.

            Rumah mbak Maya jauh sekali. Kalau ia harus mengantar Sisi segala pasti ia akan tiba larut dirumahnya.

            Sisi menggeleng.

            “Aku naik taxi saja deh, mbak. Nanti mbak ke malaman kalau harus mengantar aku.“

            “Oke, kalau begitu aku duluan, yah. Bye..“  Mbak Maya melambai sebelum menghilang dibalik pintu.

            Sisi mematikan komputernya lalu mengambil tasnya. Di pencetnya tombol lift ke arah bawah. Menunggu beberapa saat. Lalu pintu terbuka.  Ada dua orang pria bule di sana. Sisi segera bergabung.

            Didepan loby Sisi melihat laki-laki itu tengah duduk dengan resah disofa tamu. Begitu melihat dirinya, laki-laki itu melipat koran sorenya yang tidak dibaca dan menghampirinya. Sisi terus berjalan menuju teras gedung menunggu taxi.

            “Hai.“ Sapa laki-laki itu.

            “Hai.“

            “Habis lembur?“

            Sisi hanya mengangguk.

            “Anda sendiri, lembur juga?“ sindir Sisi. Laki-laki itu tersenyum malu.

            “Tidak. Aku menunggumu di sini.“

            “Untuk apa?“ Tanya Sisi terkejut. Dadanya mulai bergetar.

            Laki-laki itu diam sesaat. Untuk mencairkan rindu dengan memelukmu, bisik hatinya. Lalu katanya, “Beberapakali   aku melihatmu didepan lift. Tapi kau mungkin   tidak melihatku. Aku hanya ingin say hello saja.“

            Sisi mengangguk ragu. Entahlah apakah ia bisa menerima penjelasan laki-laki jangkung ini ?

            Sorry, sudah malam,  aku mau pulang. Mari.“ Pamit Sisi.

            Dihentikannya taxi yang melaju ke arahnya. Membuka pintu belakang dan menghenyakkan tubuh penatnya dijok empuk. Taxi melaju meninggalkan laki-laki itu yang menatapnya hingga hilang di kelokan jalan.

***

            Mata Sisi langsung tertumbuk pada buket mawar yang diletakkan dimejanya.         Dari siapa ? Bukankah aku tidak berulang tahun hari ini ? tanyanya dalam hati. Sisi mengambil pesan yang tersemat diantara kelopak mawar yang merekah.

            Selamat pagi, Sisi. Semoga harimu menyenangkan.

            Dibawah kartu itu tertera huruf r besar. Siapa ya ? tanyanya. Ketika ia menanyakan pada teman-temannya, mereka juga tidak tahu siapa yang mengirimkan buket itu.

            Siang itu Sisi bersama Tia makan dikantin. Sisi sudah tidak mau tahu lagi tentang si pengirim buket mawar misterius  itu.

            “Hai, boleh gabung?“

            Sisi memandang ke arah laki-laki yang berdiri disebelahnya. Laki-laki bertubuh jangkung.

            “Boleh. Silahkan.“ Tia menjawab cepat. Ada cowok cakep begini kok ditolak ? Mana mungkin...

            Laki-laki itu duduk diseberang Sisi setelah mengucapkan terimakasih.

            “Hari ini penuh sekali, sampai-sampai tidak ada meja yang kosong.“

            Huh, alasan,  gerutu Sisi. Kalau dibelakang kekasihnya laki-laki selalu begitu. Sisi makan dengan menatap ke piring. Risih sekali ia ditatap begitu rupa oleh laki-laki ini.

            “Si...“ Tia menyenggol bahunya. “Restu nanya ke kamu tuh. Kok malah bengong sih?“

            “Apa ?...“

            Sisi tersenyum kecut. Laki-laki didepannya tersenyum menggoda.

            “Restu nanya, kau masih ingat dia gak?“

            “Restu? Restu siapa?“

            Tia membelalakkan mata sipitnya.

            “Ya,  ampun,  Sisi.  Daritadi   kau   melamun   ya?   Kok   tidak    menyimak    pembicaraan     sih?“   Tia    memasang    muka    memberengut.  “Nama dia itu Restu, tahu!“ bisiknya nyaris mendesis.           

            “Oh, tentu saja aku ingat.“

            Laki-laki itu, Restu, tersenyum senang.

            “Aku menumpang payungnya minggu lalu sewaktu hujan besar.“

            Senyum itupun membeku. Dia tidak ingat, keluhnya.

           

            “Si, tadi aku bertemu dengan Restu.“  Tia duduk menyandar pada meja Sisi. Sisi tetap menatap ke layar komputernya. Surat ini harus selesai secepatnya.

            “Restu yang mana?“

            “Itu loh si insinyur pertanian yang kantornya di lantai sepuluh. Yang tempo hari makan siang bareng kita di kantin.“ Tia berusaha memulihkan ingatan Sisi akan laki-laki yang dimaksud.

            “Lalu?“

            “Dia pesan, kalau nanti dia ingin bertemu denganmu dikantin.“ Kata Tia pelan.

            Sisi memalingkan wajahnya ke arah Tia.

            “Buat apa? Mau traktir makan siang?“ Lalu ia kembali menekan tuts keyboard.

            “Katanya, dia mau pamitan. Dia kan harus kembali ke Yogya untuk mengurus perkebunannya.“

            Sisi kembali berpaling kearah Tia. Kembali ke Yogya? Mengurus perkebunan? Kok, Tia tahu banyak tentang laki-laki itu? Ada apa antara Tia dan laki-laki itu?

            “Kapan?“ tanyanya kecut.

            “Nanti malam. Naik Argo.“

            Sisi tidak berkata-kata. Suaranya hilang seketika. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan.

            “Secepat itu?“

            Tia mengangguk.

“Sebenarnya ia kemari hanya untuk presentasi dan meeting rutin. Tapi ternyata ia malah menambah waktu singgahnya. Katanya sih karena kau.“

            “Aku? Kenapa aku?“

            “Ya, ampun. Si, jadi kau tidak ingat dia ya?“

            Sisi menelengkan kepalanya. Mencoba mengingat sesuatu. Tapi rasanya gelap.

            “Dasar pikun. Dia itu Restu, tetangga nenekmu di Yogya dulu. Kau sudah ingat sekarang?“

            Laki-laki itu adalah Restu tetangganya sewaktu tinggal di Yogya? tanyanya mencoba mengingat masa kanak-kanaknya. Restu yang diingatnya adalah laki-laki kecil berkulit sawo matang bermata kelam. Dia selalu membela Sisi bila teman-teman mengganggunya. Restu  adalah bodyguard-nya, begitu yang sering diolokkan temannya. Tapi sisi tidak pernah menangis ataupun marah bila digoda Restu. Tapi itu dulu, sewaktu ia masih disekolah dasar. Begitu lulus SD mama dan papa  mengambilnya   untuk meneruskan sekolah di Jakarta hingga sekarang. Tapi, apakah Restu yang dulu adalah Restu yang baru ditemuinya digedung ini beberapa hari yang lalu ?

            “ Kau tahu banyak tentang dia, ya ? Sudah kencan dengannya ? Hati-hati, aku penah melihatnya bersama wanita cantik. “ cibir Sisi. Ia kembali menyelesaikan pekerjaannya.

            “Mauku sih begitu. Tapi nampaknya ia lebih tertarik padamu. Ia selalu menanyakanmu. Menceritakan dirimu sewaktu kecil dulu. Kupikir ia hanya mengarang cerita saja karena merasa pernah mengenalmu. Tapi ceritanya sama seperti yang pernah kau ceritakan padaku tentang masa kecilmu dulu.“ Tia mengguncang lengan Sisi pelan.“ Kurasa ia  mencintaimu, Si. Soal wanita cantik itu, pasti hanya sekedar teman. “

            Sisi tertawa. Macam-macam saja Tia ini. Mana mungkin laki-laki itu suka padanya. Apalagi mencintainya.

            “Tapi kelihatannya, kau lebih mencintainya kan?“ Sisi kembali terbahak. Tia melotot sebal.

            “Sisi, aku serius.“

            Sisi menggoyang-goyangkan tubuhnya.

            “Dia Restu-mu. Restu teman semasa kanak-kanakmu dulu. Kalau kau tidak percaya, kau harus menemuinya. Tanyakan padanya, mengapa ia tahu banyak tentang dirimu. Aku tidak mengada-ada, Si. Swear!“

            Sisi tercekat. Yah, mengapa laki-laki itu tahu tentang dirinya? Tentang masa kecilnya di Yogya ? Padahal tidak banyak temannya yang tahu perihal masa kecilnya dulu. Penasaran sekali Sisi dibuatnya.

 

(bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini