Cerpen: Penari
"Aku tuh kurang apa lagi coba? Aku yang mengajaknya masuk ke kelas tari ini. Aku yang mengajarinya agar ia bisa terampil menari. Biar tampak luwes. Tapi lihat, dia dengan amat menyebalkannya malah ikut kelas tari yang lain. Padahal belum tentu kelas tari itu cocok untuknya." Seru Widuri kesal. Tampaknya amarahnya perlu dibeberkan ke orang lain sebagai pelampiasan.
"Memang sih, Wid, dia sudah tampak mahir seperti senior, tapi sepertinya dia memang nggak tau berterimakasih. Seperti kacang lupa kulitnya." Tambah Sarah.
Tampaknya kata-kata Sarah barusan semakin membuat Widuri menumpahkan semua isi perutnya kepada Sarah.
"Ya memang begitu itu. Padahal kemampuannya belum juga tinggi, tapi gayanya sudah selangit."
"Sombong."
"Iya. Padahal di kelas tari ini diajarkan dengan tingkatan yang berbeda. Pelan-pelan lah. Semua perlu waktu."
"Mungkin dia nggak sabar menuju puncak."
"Mana mungkin! Sekolah saja ada tingkatannya. Sombong."
Secara tidak sengaja, Widuri dan Sarah menoleh ke arah pintu. Dilihatnya Ana sedang berdiri sambil menatap keduanya.
"Hei, apa yang kau lakukan di situ?"
Ana tersenyum kecut. Ia sadar bahwa yang barusan dibicarakan adalah dirinya. Sebab, tadi ia sempat bertanya untuk ikut kelas tari modern. Ia ingin menambah kaya wawasan dan gerak tubuh.
"Sorry, aku mengganggu ya. Aku mau ambil selendangku yang tertinggal." Ana melangkah ke pojok ruangan dan mengambil lipatan selendang warna merah. Ia menyimpannya ke dalam tas punggung hitamnya.
"Yuk, duluan." Ana memberikan senyum kecil sebelum meninggalkan keduanya.
Widuri dan Sarah memonyongkan bibirnya tanpa sepengetahuan Ana.
(Bersambung)

Komentar
Posting Komentar