Penari

part 2

Ana turun dari jok ojek on line. Memberikan tip selembar lima ribuan kepada driver ojek, lalu mengembalikan helm yang tadi dikenakannya. Setelah mengucapkan terimakasih, Ana melangkah ke dalam sebuah ruko berlantai tiga.

"Hai, Wi, Mbak Minel sudah datang atau belum?"

Ana menyapa Dewi, petugas administrasi kelas tari. Seharusnya Ana sudah tiba di kelas sepuluh menit lalu. Namun tadi sebelum ia berangkat, Sari meneleponnya sedikit curcol. Untungnya ia buru-buru mengatakan harus pergi karena ada kelas tari pagi ini jadi ia terbebas dari curcolan Sari yang bisa memakan waktu hingga satu jam.

"Sudah, Mbak. Sepertinya Mbak Minel sudah masuk ke kelas."

"Oh, oke, thanks, ya."

Ana berlari menuju tangga ke lantai dua. Kalau Mbak Minel sudah masuk kelas, bisa gawat nih.

"Baru datang, Na?" Tanya Mbak Minel di depan pintu kelas.

"Eh, iya, Mbak."

"Langsung siap-siap, ya. Hari ini kita ada tarian baru."

"Iya, Mbak."

Ana masuk ke dalam ruang kelas. Semua sudah berkumpul lengkap dengan selendang yang tergantung di leher masing-masing. Ana melirik ke bagian depan kelas, Widuri menatap matanya tajam. Ana segera berpaling. Ia menyimpan sendal dan tasnya ke dalam locker. Setelah mengambil selendang dari dalam tasnya, ia mengunci locker dan bergabung dengan teman-teman yang lain.

***

Ana menyeruput minuman coklat panasnya sedikit. Terlalu manis. Juga masih panas. Ia mengembalikan gelas berisi minuman itu ke meja bundar di depannya. Di sebelahnya ada gelas kosong dengan sepotong lemon di dalamnya. Ya, ini adalah gelas keduanya.

Ana menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang terbuat dari rotan dan di cat warna coklat. Di edarkannya pandangan ke seluruh ruangan kafe. Pengunjung yang duduk di balkon lantai dua tidak terlalu banyak. Hanya beberapa saja. Rata-rata mereka asyik dengan laptop atau ponselnya.

Ana menarik napas. Sudah nyaris tiga puluh menit namun yang di tunggunya belum datang. Seperti inilah rasanya kalau janjian dengan Sari, pasti ngaret. Dibukanya layar pintar pada ponselnya lalu ia mengetik nama sari di daftar kontak. Lalu di pencetnya gambar telepon .

"Hallo."

"Hallo, Sari, lo udah sampe mana sih? Kok dari tadi nggak sampe-sampe?"

"Ups, sorry, Na. Kayaknya gue lupa ngasih tau lo kalo gue nggak jadi ke kafe. Mas Biyan dateng dan minta temenin ke barber shop."

"Ya, ampun, Sari. Lo kebiasaan banget deh. Kalau nggak jadi kenapa nggak kasih tau daritadi sih? Mana gue udah lama nunggu. Sampe minum dua gelas gini lagi."

Sari di seberang tertawa terbahak.

"Abis marathon ya lo? Sampe segitu hausnya."

"Nggak haus. Gue cuma bete ajah nungguin orang yang nggak sampe-sampe. Padahal tadi pagi siapa yang merengek-rengek minta ketemuan? Siapa yang nentuin kafenya?" Cetus Ana kesal.

Namun Sari bukannya merasa bersalah, ia malah semakin terbahak.

"Nggak usah ketawa deh."

"Habis lo lucu banget. Gue lagi ngebayangin muka lo yang berlipet kalo lagi marah."

"Nggak usah di bayangin."

"Iya.. iya... yawdah kita ketemuan nanti malem ajah ya di kost lo."

"Ketemuan sih gampang. Tapi nih minuman gimana?"

"Ya nggak gimana-gimana. Lo habisin deh. Eh, sorry, gue pergi dulu ya, Mas Biyan manggil gue nih."

Klik.

Ana menyimpan ponselnya ke dalam tas. Lalu diraihnya gelas coklat panas.

"Mbak, bisa dibungkus pakai gelas plastik? Saya harus pergi sekarang."

"Bisa, mbak. Ditunggu ya."

Lebih baik ia beristirahat di kost sambil rebahan ketimbang di sini, pikir Ana dalam hati.

"Silakan, Mbak."

"Terimakasih."

Ana menuju kasir dan membayar dua minumannya.

==bersambung==

Komentar

Postingan populer dari blog ini