PELANGI
Part2
“Aku minta maaf kalau aku terlalu memaksamu untuk bertemu denganku sekarang. Sebenarnya, aku hanya ingin berpamitan. Nanti malam aku harus kembali ke Yogya.“
Sisi mencari kebohongan yang mungkin terlintas dari mata kelam laki-laki didepannya. Tapi tidak tampak sedikitpun.
“Aku juga minta maaf kalau terlalu memaksamu mengingat masa kecil dulu di Yogya. Aku sadar, waktu itu telah lama berlalu. Bisa jadi kau telah melupakannya.“
“Aku tidak pernah lupa dengan masa kecilku. Apalagi sewaktu di Yogya dulu. Aku rasa, masa itu adalah masa kecil terindah. Bagaimana kau yakin aku telah mengenalmu?“
“Kau lupa padaku? Aku Restu, tetanggamu dulu di Yogya. Kita selalu bermain bersama dulu. Ingat?“
“Restu yang kukenal berbadan kecil. Sering membantuku membuatkan prakarya sekolah. Dia juga yang menolongku sewaktu aku diganggu teman-teman. Dia juga jahil dan sering menggangguku. Tapi aku tidak pernah marah padanya. Karena dia baik.“ Pandangan Sisi menerawang seakan ia melihat kembali masa indah itu.
“Kau tidak melihat sosok Restu kecilmu padaku ? Pandang aku baik-baik, Si.“
Sisi mengamati laki-laki itu lebih seksama. Ada goresan kecil dikening sebelah kiri. Dulu Restu kecil pernah terjatuh sewaktu berkelahi. Keningnya mengenai batu yang berujung tajam. Alhasil lukanya harus dijahit.
Semakin memandang laki-laki itu, Sisi semakin merasa aman dan menyenangkan. Wajah Restu seperti pernah melekat dikepalanya. Sisi menangkupkan ke dua tangannya ke wajahnya. Menutupi tawa yang tertahan.
“Aku ingat. Aku ingat sekarang. Luka itu. Rambut ikalmu. Matamu... Ya. Aku yakin kau adalah Restu temanku sewaktu kanak-kanak dulu. Maaf kalau aku tidak segera mengingatmu. Tubuhmu sekarang jangkung sekali. Padahal dulu kau begitu kurus dan kecil.“
“Tapi aku sanggup memukul roboh Dino yang bertubuh gendut.“
Ya..ya... Dulu Dino gendut selalu mengganggunya. Sampai ketika Sisi yang tengah bermain dengan boneka beruangnya yang diberikan nenek sebagai hadiah kelulusannya, direbut dan di buang Dino ke got. Sisi marah sekali. Tapi ia tidak mungkin melawan Dino yang bertubuh besar. Ia hanya menjerit dan menangis. Juga sewaktu Restu telah memukul Dino hingga jatuh pun Sisi tetap menangis. Sisi melihat darah mengucur dari kening Restu.
“Kau masih suka berkelahi?“
Restu menggelengkan kepalanya pelan.
“Kenapa? Takut kalau kau bakal dibuat babak belur oleh Dino atau teman-teman yang lain?“ goda Sisi.
Restu kembali menggeleng pelan. Matanya tak pernah lepas dari wajah Sisi.
“ Untuk apa ? Beberapa hari setelah itu kau pergi ke Jakarta bersama orangtuamu. Aku tidak perlu berkelahi lagi. “
Sisi ingat, tidak berapa lama setelah kejadian itu orangtuanya datang menjemputnya dan menyekolahkannya di Jakarta. Sejak saat itu ia tidak pernah tahu tentang Yogya. Kakek dan neneknya telah berpulang dua tahun kemudian.
“Aku merasa bersalah telah membuatmu babak belur karena membelaku. Maafkan aku. Aku tidak tahu mengapa dulu sering sekali diganggu oleh teman-teman.“ Sisi menyentuh lengan Restu pelan dan singkat. Dan dadanya berdesir hangat.
“Karena kau terlalu manis, Si.“ Restu menatapnya dengan lembut. “Juga cengeng.“
Sisi tersenyum. Senyum yang menggetarkan jantung Restu.
“Mengapa tak kau katakan sejak pertama kali kita bertemu saat hujan waktu itu.“
“Aku tidak ingin membuatmu berteriak karena takut. Aku sadar waktu telah membuat kita berubah dan lupa.“
“Tapi akhirnya aku ingat, kan?“
“Dan kau juga semakin cantik.“
Wajah Sisi memerah.
“Ternyata kau masih suka bermain hujan.“ kata Restu.
“Tidak juga. Hanya kebetulan aku ada keperluan waktu itu. Kau sendiri?“
“Terus terang, aku memang masih suka berhujan-hujanan. Aku masih berharap mendapatkan ujung pelangi. Seperti dulu.“ Kata Restu. Ada sesuatu yang disimpannya dalam-dalam.
Ya, dulu sekali mereka memang sering bermain ditengah hujan. Berlomba mencari ujung pelangi untuk mendapatkan mimpi yang mereka harapkan menjadi kenyataaan. Seperti kisah yang sering didongengkan nenek tentang sang pangeran yang menemukan puteri yang dicintainya dibawah kaki pelangi.
“Aku juga ingat kau suka dengan mawar merah.“
Sisi teringat dengan buket mawar yang diterimanya minggu lalu.
“Jadi kau yang mengirimkan buket itu?“
Restu mengangguk.
“Kau suka?“
“Amat suka. Thanks.“
***
Sudah dua bulan Restu kembali ke Yogya. Sisi masih tetap menerima pesan pada ponselnya. Hanya sesekali Sisi membalasnya. Walaupun Sisi jarang membalas, toh Restu tetap mengirimkannya pesan-pesan. Ia takut berharap terlalu tinggi tentang laki-laki itu. Ia masih menyimpan harapan untuk Restu kecilnya.
Suatu saat nanti bila kita dewasa, kelak kita akan bertemu kembali dibawah rintik hujan dan naungan pelangi. Dan kita akan hidup bersama hingga kakek nenek. Itu janji mereka dulu sebelum berpisah. Janji yang diucapkan dua orang anak-anak. Tapi, apakah Restu masih mengingat janji mereka dulu ? Sisi mendesah resah.
Tia menepuk bahu Sisi pelan. Tapi akibat tepukan itu membuat Sisi terkejut bukan kepalang. Nyaris ia menjerit kalau tidak segera membekap mulutnya sendiri.
“Ups, sorry. Kau melamun terus seharian ini.“
“Siapa bilang? Aku sedang menghitung angka-angka ini. Kalau salah bisa berabe nanti.“ Sisi berpura-pura menghitung sembarang angka dengan kalkulatornya. Tia terkikik.
“Sudah deh, tidak perlu bohong seperti itu,“ Tia mengambil kalkulator dari tangan Sisi dan menaruhnya dimeja. “Melamunkan Restu?“ Tembakannya mengena tepat disasaran. Sisi berusaha menggeleng. Tapi percuma, Tia tidak percaya. Akhirnya ia hanya mengangguk pasrah.
“Sudah kau balas sms-nya?“
“Aku takut, Tia. Aku takut terlalu berharap.“
“Apa Restu telah punya kekasih? Atau menikah?“
“Aku tidak tahu.“
“Kau pernah menanyakan padanya?“
Sisi menggeleng.
“Jadi, bagaimana kau bisa tahu kalau kau tidak pernah menanyakan padanya, Non? Selama ini kau menyimpan cintamu hanya untuk dia seorang, kan? Kau selalu menolak uluran cinta dari laki-laki manapun. Sekarang setelah bertemu Restu kau malah lari ketakutan. Kau ini bagaimana sih?“
Sisi menggeleng.
“Aku takut.“ Katanya lemah.
“Kau bukan takut. Tapi kau ragu, apakah kau masih mencintainya sama seperti cinta monyetmu dulu dengannya.“
Sisi tergugu. Ya, ia terlanjur menitipkan cinta monyetnya pada potret kanak-kanaknya. Apakah saat inipun ia masih mempunyai cinta untuk Restu yang tumbuh menjadi pria jangkung yang tampan? Kalau tidak, mengapa mimpi malamnya penuh dengan senyum pria itu? Mengapa dadanya bergetar bila menyebut namanya? Mengapa ada kerinduan dihati untuk bertemu kembali dengannya?
***
Kebetulan ada sepupu Sisi yang akan menikah di Yogya. Dika, anak tante Mia yang kini tinggal dirumah mendiang kakek neneknya. Mama menyuruh menghadirinya ke sana. Mama tidak bisa pergi karena kesibukannya di acara-acara sosial. Apalagi papa yang hampir tidak pernah dilihatnya dirumah. Ia masih sibuk bekerja padahal umurnya sudah tidak lagi muda. Sisi segera mengambil cuti beberapa hari.
Hari baru saja menguak pagi ketika keretanya memasuki stasiun. Keretanya tiba setengah jam lebih cepat dari jadwal. Dimasukkannya boneka beruangnya kedalam tasnya. Boneka yang dulu dihadiahkan nenek padanya. Boneka yang selalu mengingatkan Sisi pada kisah kanak-kanaknya.
Sisi menengok kesana kemari mencari sosok Dika yang dingatnya hanya bayang-bayang samar saja. Sisi mencari dikerumunan orang-orang yang menjemput. Tapi sosok itu tidak dilihatnya.
“Sisi! Sebelah sini!“
Sisi menengok ke arah suara yang memanggilnya. Dilihatnya sosok jangkung itu tengah melambai dan berjalan kearahnya
“Sorry, aku telat, yah?“ tanya Restu setelah mendekat.
“Tidak. Keretaku yang tiba terlalu cepat dari jadwal.“ Sisi celinukan mencari seseorang.
“Kok, kau yang menjemputku? Mana Dika?“
“Ia takut tidak mengenalimu. Makanya ia menyuruhku yang menjemputmu.“ Restu mengambil alih membawa kopornya dan menggandengnya dengan tangan yang lain.
Rumah itu masih berdiri kokoh di sana. Tidak terlalu banyak perubahan yang terjadi. Hanya catnya yang diganti baru. Pohon jambu yang dulu sering dipanjatnya bersama Restu didepan rumah itu pun sudah tidak ada. Tapi yang lainnya masih tetap sama.
“Selamat datang kembali di Yogya, Si.“ bisik Restu ketika Sisi mendaratkan kakinya dihalaman rumah.
“Apakah aku masih diterima di sini?“ Dipandangnya Restu yang tengah menatapnya.
“Selalu, Si, selalu.“
Sisi tersenyum. Dan jantung Restu kembali bergetar.
Sebuah pekikan membuat keduanya menoleh.
“Sisi! Akhirnya kau datang juga..“ Dika berlari memeluknya.
“Kau tidak berubah, Dika. Masih sama seperti yang dulu. Keriting dan hitam.“ kata Sisi setelah mereka merenggangkan pelukannya. Dika tertawa.
“Benar apa yang dikatakan Restu. Kau cantik sekali.“
“Dia bohong.“ Sisi melirik kearah Restu yang sedang mengeluarkan kopornya dari mobil. Laki-laki itu tengah mencuri pandang padanya.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi Sisi dan Dika masih terus bercerita tentang macam-macam di kamar Sisi.
“Aku tidak menyangka kau akan menikah secepat ini. Apalagi dengan musuh bebuyutanku dulu.“ Sisi terkikik geli.
“Dino yang sekarang tidak seperti dulu. Ia tidak jail lagi.“
“Oh ya?“
“He eh. Besok dia janji mau datang untuk acara midodaren. Aku tidak boleh bertemu dengannya karena masih dipingit. Tapi kau bisa menemuinya.“
“Kau tidak takut pengantinmu kubawa lari?“ goda Sisi.
“Mana mungkin. Restu pasti akan menghajar Dino habis-habisan.“
“Kenapa?“ Kening Sisi berkerut. Tapi senyum kecilnya masih tetap mengembang. “Apa Restu masih suka berkelahi dengan Dino seperti dulu?“
Dika menggeleng.
“Mana mungkin Dino berani mengganggu calon istri orang?“
“Maksudmu?“ tanya Sisi bingung.
“Apa Restu belum mengatakannya padamu?“
Sisi semakin bingung dibuatnya.
“Mengatakan apa?“
“Bahwa ia akan melamarmu. Sudah terlalu lama ia menyimpan cinta untukmu, Si.“
Sisi tercenung.
***
Pesta pernikahan Dika sangat meriah. Maklum anak semata wayang. Dan keluarga besar mereka cukup terpandang di sana. Banyak tamu dari berbagai kalangan yang datang. Sisi begitu sibuk membantu perhelatan itu. Baru setelah hari menjelang malam ia bisa meluruskan tubuhnya yang penat diteras samping. Tamu-tamu tidak lagi sebanyak tadi.
“Capek?“ tanya Restu yang duduk disisinya.
Sisi mengangguk.
“Mau kupijit?“ tawarnya tulus.
“No, thanks.“ tolaknya. Apa kata orang nanti kalau mereka melihat Restu tengah memijitnya? Ini kota kecil.
“Akhirnya mereka menikah juga.“ Restu berkata setengah berbisik. Memandang ke arah pelaminan dimana Dika tengah duduk berdampingan dengan Dino. Mereka terlihat begitu bahagia.
“Kenapa, Kau iri?“
“ Untuk apa iri pada mereka ? Suatu hari nanti kita akan lebih bahagia daripada mereka di sana. “
“Kita?“
Sisi mengerjapkan matanya. Restu memandang ke arahnya. Lalu mengambil jemarinya yang mungil dalam genggamannya.
“Si, Apakah aku harus terus mengejar pelangi agar mimpi kita menjadi kenyataan?“
Sisi terdiam.
“Aku lelah bertahun-tahun berlarian sendiri mengejarnya. Aku ingin terus bergandengan tangan dan mendengar tawa riangmu. Seperti dulu.“
Sisi tergugu. Bisu.
“Aku ingin menikah denganmu, Si. Walaupun aku tidak pernah mendapatkan pelangi. Tapi kau sudah cukup membuat hari-hariku penuh dengan warna. Apakah kau mau menikah denganku?“ Restu membawa tangan mungil itu ke bibirnya dan mengecupnya.
Sisi tidak sanggup menjawabnya. Sisi terlampau haru dan bahagia. Airmatanya tiba-tiba menetes. Restu menghapusnya dengan jemarinya. Dimata yang basah itu dilihatnya kilatan warna pelangi. Restu membawa Sisi ke dalam rengkuhannya yang hangat. Sisi tidak perlu menjawabnya. Restu sudah tahu apa jawabannya.
....... Setelah hujan reda, segera sang pangeran berlari keatas bukit. Di sana, sang puteri yang sangat dicintainya tengah menantinya di bawah kaki pelangi.
SELESAI

Komentar
Posting Komentar