Cerpen : Prank!!

 

“Bro, what are you doing with my pict?”

Tommy,  bule asal Amrik itu tersenyum kecil.

“Kau tau, bro, itu gambar yang akan kita presentasikan. Kenapa malah dirusak seperti ini? Aku sudah buat ini berhari-hari, tau.”

“Adrian..Adrian..Adrian… tidak usah semarah itu. Santai saja.”

“Santai bagaimana? Dua hari lagi kita akan presentasi. Dan sekarang kau rusak gambarku yang bakal kita presentasikan. Dasar bule ngawur.”  Adrian terus ngedumel. Rekan kerjanya ini memang sering berbuat ngawur dan seenak perutnya. Untung saja Adrian masih bisa menahan marahnya untuk tidak melempar kursi ke kepala si Bule ini.

Tommy tertawa terbahak.

“Nggak usah ketawa.”

Tommy semakin terbahak melihat Adrian uring-uringan.

Come on, Adrian, kita tidak pernah tau tentang Kapal pesiar. Kita tidak pernah tau apa isinya. Kita tidak pernah naik kapal pesiar. Jadi apa yang akan kau buat? Gambar contekan dari postcard? Are you crazy, man?” Tommy melempar sepotong gambar postcard ke arah Adrian.

Adrian terdiam. Ia memang tidak pernah tau tentang kapal pesiar. Ia hanya melihatnya dalam gambar-gambar di kalendar atau catalog tour and travel.

“Tapi kita sudah mendaftar sebagai peserta tender.”

Tommy mengedikkan bahunya.

“Biarkan saja. Toh kita memang sudah kalah sebelum bertanding.”

“Trus, kenapa kau suruh aku daftar  tender proyek itu?” Adrian masih mangkel.

“Adrian…. Sorry, aku memang sedikit berbuat nakal padamu. Aku hanya bermain-main saja dengan mendaftar  tender itu.  But, you know, kita hanya kontraktor gedung. Bukan pembuat kapal.”

“What? Tapi kenapa kau diam saja seminggu ini aku membuat gambar kapal pesiar?”

“Aku kira kau bakal ngerti. Tapi nyatanya gak ngerti-ngerti juga.”

Wedus!”

Tommy tertawa ngakak meliat Andrian mengumpat. Ia memang tidak mengerti apa yang diucapkan Adrian. Tapi dari melihat raut wajahnya Tommy bisa menilai kalau Adrian sangat kesal.

“Sudahlah. Lupakan tender itu. Pekerjaan kita sudah selesai. Aku ingin mengajakmu liburan sebelum mengerjakan proyek baru.”

“Tumben.” Adrian menjebikkan bibirnya yang berkumis tipis. “Kemana?”

“Kita berlayar ke pulau.”

“Naik kapal pesiar?”Tanya Adrian antusias. Ia memang ingin sekali naik kapal pesiar. Sayangnya selama ini ia belum ada waktu.

Tommy menggelengkan kepala.

“Naik perahu motor saja.”

“Mau berlayar kemana naik perahu motor?”

“Ke Pulau Pramuka mungkin.”

Mata Adrian melotot. Ngapain ke kepulauan seribu? Apalagi ke pulau pramuka. Ia sudah tiga kali kesana.

Tommy kembali tertawa. Ia sudah mengerjai Adrian lagi.

“Kita akan ke Bali dan ke Lombok. Katanya pantainya bagus.”

“Nah, itu baru liburan.”

“Kalau begitu besok pagi kita berangkat. Aku sudah suruh Rita untuk siapkan semuanya.”

“Rita ikut juga?” Adrian membayangkan Rita yang cantik dan kenes itu menari hula-hula di pantai. Pasti seru.

“Nggak. Nanti sajalah kau akan tau juga.”

Bibir Adrian cemberut. Mana enak liburan berdua saja. Dengan laki-laki pula. Awas saja kalu si bule ini punya sex menyimpang dan naksir dirinya.

 

***

            Ke esokan harinya Adrian dan Tommy naik pesawat komersial nasional menuju Bali.  Mereka akan bersenang-senang di sana selama tiga hari di Bali kemudian akan ke Lombok tiga hari. Setidaknya seminggu tidak memikirkan proyek itu sudah bagus. Toh selama ini Adrian belum pernah berlibur selama ini. Paling lama dua hari. Itu pun  masih harus menerima panggilan dari proyek untuk tetap memonitor pekerjaan di lapangan. Sebagai supervisi, ia memang bertugas mengawasi jalannya proyek bersama Tommy, anak pemilik perusahaan.

            Dari bandara mereka melaju langsung ke hotel. Sore nanti barulah mereka akan pergi jalan-jalan menyusur kafe-kafe di pinggir pantai.

Kamar mereka berhadapan. Awalnya Adrian mengira mereka akan satu kamar. Untungnya Tommy sedang waras saat memesan hotel.

            Di depan kamar, Tommy berhenti sejenak.

            “Kau jangan menggangguku beberapa jam ini, oke.”

            Adrian menelengkan kepalanya tanda tak mengerti. Tapi akhirnya ia tetap menganggukkan kepalanya. Mungkin Tommy mau tidur. Semalam katanya ia pesta sampai pagi bersama teman-teman bulenya di daerah Kemang.

            Tommy membuka pintu sambil tersenyum aneh.

            “Enjoy your vacation.” Ucap Tommy sebelum menghilang dalam kamar.

            “You too.”

            Adrian membuka pintu kamar. Ternyata tidak terkunci. Tanpa berpikir macam-macam, ditariknya koper kabin warna marun masuk ke dalam kamar. Dinyalakannya lampu lorong sebelum menutup dan menungunci kamar. Dibukanya lemari yang ada didekat pintu dan menyimpan kopernya di sana. Dilepaskannya sepatu  yang dikenakannya dari Jakarta tadi dan menggantinya dengan sandal kamar.

            Hal yang selalu dilakukan Adrian bila masuk rumah dari bepergian adalah mencuci muka dan kakinya. Biar setan jalanan  yang nempel langsung hilang, kata nenek. Dulu Ibu selalu mengingatkan akan hal itu. Dan Adrian selalu melakukannya.

            Kemudian ia beranjak ke arah jendela. Ia ingin membuka gordain yang menutup jendela agar kamar menjadi terang terkena sinar matahari. Begitu  gordain dibuka sinar matahari langsung masuk ke dalam  kamarnya yang terletak di lantai dua belas. Ia membuka pintu balkon dengan menggeser pintu kacanya. Adrian melangkah ke balkon. Saat ini baru pukul sepuluh lewat lima belas menit waktu Jakarta. Berarti sudah pukul sebelas lewat lima belas menit waktu Bali. Sudah siang. Dilihatnya ke arah bawah. Kolam renang hotel tampak membiru. Tidak ada yang berenang pada jam-jam begini. Mungkin takut terkena UV.

            Tiba-tiba Adrian mendengar sesuatu.  Ia terkejut. Suara apa itu? Di kamar itu ia sendirian. Mengapa ia  mendengar ada suara? Ia melihat ke sekeliling, tapi tidak ada orang yang berada di balkon mereka. Suasanya sunyi. Lalu suara apa yang tadi didengarnya?

          Dengan perlahan ia masuk kembali ke dalam kamar. Tapi langkahnya tertahan. Ia melihat sebentuk mahluk tengah tergolek di ranjang dengan seluruh badan tertutup selimut. Sejak kapan mahluk itu ada di sana ? Ia tidak melihat ada siapa-siapa di kamar ini selain dirinya. Mahluk alienkah itu? Adrian ingat ada film barat yang mengisahkan tentang ekspansi aliens ke bumi. Apakah mahluk di ranjang itu juga alien yang tengah ekspansi ke Bali? Mau apa dia kemari? Mengacaukan liburan saja.

            Adrian mendekat ke arah ranjang dengan perlahan. Ia tidak ingin mahluk itu tahu keberadaannya dan mengamuk. Ditunggunya selama dua menit. Namun tidak ada pergerakan lagi. Perlahan dipegangnya ujung selimut. Dengan sekali sentak Adrian membuka selimut. Betapa terkejutnya Adrian demi melihat mahluk yang tadi dikiranya alien. Ternyata yang tengah bersembunyi di balik selimut tadi adalah mahluk perempuan berkulit mulus berwarna kuning langsat. Namun wajahnya tidak terlihat karena tertutup rambut panjangnya.

            Hati Adrian berkecamuk. Sedang apa perempuan ini tidur di ranjangnya? Apakah ia adalah tamu hotel yang seharusnya sudah cek out? Atau ia adalah perempuan dengan tanda kutip yang di tinggal begitu saja oleh tamunya semalam? Entahlah.

            Adrian menyentuh lutut perempuan itu mencoba membangunkannya. Awalnya tidak ada gerakan apapun dari perempuan itu. Lalu ia mulai menggerakkan lutut perempuan itu dengan keras. Berhasil. Perempuan itu mengeluh pelan. Ia menggeliat. Lalu menyibakkan rambutnya sambil memandang Adrian. Adrian terpana. Perempuan itu cantik sekali.

            “Hai.. Sudah sampai ya? Maaf aku ketiduran.” Perempuan itu bangkit dari tidur dan duduk di tempat tidur.

            Adrian bingung. Apakah yang perempuan ini maksud adalah dirinya? Perempuan ini menunggunya? Padahal ia tidak mengenal perempuan ini. Lalu mengapa perempuan ini menunggunya? apakah ini adalah jebakan dari perempuan dengan tanda kutip?

            Ia tampak cantik sekali. Adrian menelan ludah. Sebelum ia kehilangan akal, Adrian memalingkan wajahnya.

“Maksudmu? Aku tidak kenal denganmu. Untuk apa kau menungguku?”

            “Aku memang benar menunggumu. Sorry, sepertinya aku ketiduran.”

“Kau pasti bohong. Cepat pergilah!”

“Kalau aku tidak mau, kau mau apa?”

            “Aku akan melaporkan ke security hotel untuk mengusirmu.”

            “Huh. Galak bener.”

            “Sudah jangan banyak cingcong!” bentak Adrian. Amarahnya sudah di ubun-ubun.

Adrian menggelengkan kepalanya dengan keras. Ia tidak mungkin marah dengan perempuan secantik ini. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan perempuan ini.

            Adrian berjalan ke arah kulkas kecil didekat tivi. Dibukanya pintu kulkas dan terlihat ada beberapa minuman kaleng di sana. Adrian mengambil air mineral. Membuka penutupnya dan menyesapnya hingga beberapa tegukan. Air dingin yang mengalir ke tenggorokannya membuat emosinya sedikit menurun. Ditutupnya pintu kulkas. Lalu ia membalikkan tubuhnya menghadap perempuan itu.

            “Siapa kau sebenarnya?” Adrian bersandar ke dinding sambil tetap memegang botol air mineral. Ia ingin tetap sadar dan tak tergoda oleh perempuan itu.

            Perempuan itu menoleh ke arahnya. Tersenyum. Manis sekali. Hati Adrian mulai merintih.

            “Panggil aku Lita.”

            Jadi namanya Lita. Apa benar itu nama aslinya?

            “Apa yang kau lakukan di sini?”

            Lita hanya tersenyum. Ia mulai mengenakan sepatu dengan hak tinggi. Lalu meraih tas kecil yang diselempangkan di bahunya.

            “Apa kau perempuan begituan?”

            Lita memandangnya dingin tanpa kata. Ia tersinggung.

            “Aku akan pergi.” kata Lita pelan ketika melewati Adrian.

            “Kau belum menjawab pertanyaanku.” Adrian mencekal tangan Lita.

            Lita berhenti lalu menatap laki-laki  di depannya. Dengan marah ia melepaskan tangan Adrian.

            “Jawabannya ada di laci nakas.” Lita membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah pergi. Ketika sampai pintu, ia  menghembuskan nafasnya dengan kencang. “Dan ingat, aku bukan perempuan begituan. Bukan lonte. Aku hanya dibayar untuk menggodamu tanpa melakukan hal-hal yang kau pikirkan.”

Dibantingnya pintu kamar sewaktu ia keluar.

Adrian terkejut dengan perlakuan dan kata-kata Lita barusan. Lalu, kalau bukan perempuan begituan,  ia perempuan apa? Mana ada perempuan baik-baik yang tidur di hotel yang kamarnya telah dipesan oleh orang lain? Huh, yang benar saja.

            Tiba-tiba Adrian teringat kata-kata Lita tadi bahwa jawaban atas pertanyaannya tersimpan dalam nakas. lemari kecil disebelah ranjang. Dengan cepat ia menuju nakas didekatnya. Dibukanya lacinya. Kosong. Tidak ada apa-apa di sana. Ia memutar ke arah seberang tempat tidur dan membuka nakas Di sana ia menemukan selembar kertas dengan  tulisan tangan yang  cukup ia kenal. Tulisan  ceker ayam milik Tommy si bule sinting.

            Prank!! Yakin tidak  tergoda? Hahahaha…

            Wedus! Jadi si Bule itu sudah mempermainkannya? Dasar sinting! Seru hati Adrian marah.

            Tanpa sadar tinjunya melayang ke arah lampu kamar di atas nakas. Prek! Lampu duduk itu hancur dan terguling ke lantai.

            Tiba-tiba ponselnya bordering nyaring. Adrian mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ada nama Tommy di layar. Kebetulan. Ia ingin sekali menghajar bule sinting itu.

“Hei, Bule, puas kamu ngerjain aku?’

Adrian tidak mendengar jawaban Tommy. Hanya tawa yang terdengar.

Wedus, kamu, Tom! Ngerjain orang nggak kira-kira. Untung imanku kuat.”

Well, Adrian, enjoy your vacation.” Tommy kembali terbahak. Puas sekali si Bule itu ngerjain Adrian. Lalu ia mematikan telepon. Ia tahu Adrian pasti akan mencak-mencak dan memakinya dalam bahasa ibunya. Ia tahu sekali watak Adrian yang sudah dua tahun ini dikenalnya sebagai rekan seperjuangan di perusahaan tempat mereka bekerja. Adrian terlalu serius. Tidak punya sense of humor. Berbeda dengan dirinya.

Wedus! Benar-benar wedus. Adrian merasa  telah dipecundangi oleh Tommy. Awas saja, aku pasti akan membuat perhitungan  ke Tommy, bule sinting itu. Pembalasan  pasti  lebih kejam, Jendral!

Adrian turun ke lobby lalu berbelok ke kafe yang terletak di dekat kolam renang. Disana ia melihat beberapa pengunjung yang sedang bersenda gurau atau hanya menikmati secangkir kopi. Di sudut kafe Adrian melihat perempuan itu. Lita tengah duduk sendiri sambil menikmati musik dan secangkir kopi hitam.

Adrian memesan secangkir kopi  hitam kepada pelayan dan membawanya sendiri ke meja Lita. Lita tampak terkejut dengan ke datangan Adrian. Tapi tidak mengatakan apa-apa.

“Hai, Aku Adrian. Boleh aku minta bantuanmu?” Adrian tersenyum simpul penuh dengan ide gila untuk mengerjai si Bule sinting.

“Lita, artis bayaran.”

Adrian menjabat tangan Lita yang terulur lalu duduk di kursi dihadapannya.

“Sesuai bayaran.”

Deal.

Tamat

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini