HANYA RINDU
Lena menutup telepon dengan senyum terkembang. Baru saja Andika meneleponnya, memberitahukan bahwa ia ingin bertemu dengannya esok. Katanya, ia sudah terlalu lama menahan rindu kepada Lena. Pekerjaannya belakangan membuat laki-laki bertubuh tinggi besar itu tidak lagi sering datang untuk mencecap kopi buatan Lena. Namun Lena rela menunggu kehadiran laki-laki yang telah membuatnya berdebar seperti ABG yang jatuh cinta pertama kali. Padahal usianya kini mendekati angka lima puluh tahun. Namun kecantikan masa mudanya masih membekas. Hanya perjalanan hidupnya yang tidak secantik wajahnya.
Sebelum ia terlelap, ia menuliskan pesan singkat untuk Andika.
“Selamat malam, Sayang. Biarkan rindu ini menumpuk, agar semuanya lebur pada pertemuan kita nanti.”
“Selamat tidur, Bidadari Biruku. Sungguh aku tidak rela menumpuk rindu di setiap waktu. Aku selalu berdoa untuk bertemu denganmu agar tidak lagi tersiksa dengan rindu ini.”
Lena tersenyum lebar membaca balasan dari Andika.
“Selamat bermimpi tentangku, Sayang. Aku akan selalu ada dalam pelukmu.”
“Selamat tidur, kekasihku. Aku akan selalu memelukmu dalam mimpiku.”
Lena memejamkan matanya masih dengan senyum yang menghias bibir tipisnya.
***
Lena merapikan baju tunik merah muda yang dikenakannya. Hari ini ia bermaksud membezuk seorang teman yang sedang sakit. Namun Andika tidak bisa menemaninya pergi.
“Tet… teeett… “
Suara klakson berteriak garang di sore yang mendung. Lena bergegas keluar. Di lihatnya Rio telah menunggunya di atas motor bututnya. Lena tersenyum kecil. Rio tersenyum memamerkan sepotong giginya yang tanggal karena kecelakaan dua tahun lalu.
“Hai, Rio. Tunggu, ya, aku ambil tas dulu.”
Sebelum Rio menjawab, Lena sudah berlari ke arah kamarnya mengambil tas kecilnya dan diselempangkan di bahunya.
“Mau pergi kemana, Lena?” Tanya Mama melihat Lena sudah berpakaian rapi.
“Lena mau ke rumah sakit. Teman Lena ada yang dirawat, Ma. Kasihan kalau tidak ada yang menjenguk.”
“Ya, Kau harus kasih support untuknya, ya. Biar dia terpacu untuk sembuh.”
“Ya, Ma. Lena berangkat sekarang, ya, Ma.”
“Kau pergi dengan siapa?”
“Dengan Rio, Ma,” Lena mencium tangan Mama sebelum pergi.”Assalammualikum, Ma.”
“Waalaikumsalam. Hati-hati, Lena, sudah mau hujan.”
Lena menjawab dengan lambaian tangannya. Dengan segera ia naik ke jok belakang motor Rio.
***
Tut..Tuut…
Ponsel Lena berbunyi tanda ada pesan masuk. Lena mengambil ponsel dari tasnya dan melihat siapa yang mengirimkan pesan. Andika. Pasti laki-laki itu bertanya-tanya kemana ia hari ini. Senyum Lena terlihat kecut.
“Dari siapa?” Tanya Rio sambil melirik ke ponsel Lena. Lena segera memasukkan ponselnya kembali tanpa membuka isi pesan Andika. Saat itu mereka sedang berteduh di sebuah warung kopi di pinggir jalan.
“Mau tahu saja.”
“Semua laki-laki pasti akan mau tahu dengan siapa kekasihnya mengirim pesan.”
“Kekasih yang mana?” tanya Lena manja.
“Ini yang ada didekatmu.”
Lena memoyongkan bibirnya yang mungil. Lalu mereka tertawa bersama.
Lena Tahu kalau Rio memendam perasaan kepadanya. Namun ia belum menjawab perasaan Rio. Sisi hati Lena telah terisi oleh Andika. Ya, Andika yang selalu memiliki banyak perhatian untuknya. Namun saat ini ia tak mau menjawab pesan ataupun telepon Andika. Ia ingin berlagak ngambek. Ia ingin Andika datang dan membawanya pergi ke tempat-tempat yang pernah mereka bicarakan. Ia ingin tahu seberapa besar cinta Andika yang sesungguhnya padanya. Cinta butuh ujian, bukan?
***
Siang itu Lena membaca pesan berantai dari teman sekolahnya dulu yang menyatakan Andika meninggal. Matanya mulai memburam dengan air mata yang memaksa tumpah ke pipi. Tubuhnya di rasa lemah tak bertulang, ia pun terjatuh ke pembaringan. Tangisnya pecah sudah.
Lena masih tidak percaya dengan apa yang dibacanya. Dipencetnya tombol pada nama Andika di ponselnya. Lama tidak terangkat dan akhirnya sambungan terputus dengan sendirinya.
Tuut..tuut..
Ada pesan masuk. Dari Rio.
“Lena, sudah dapat kabar kalau Andika meninggal? Kau mau ku jemput untuk takziah?”
“Jemput aku sekarang.” balas Lena cepat.
Dengan masih terisak, Lena membersihkan wajahnya dan mengganti pakaiannya. Ia harus hadir di pertemuan terakhir mereka. Ia akan katakan betapa ia pun merindu sama seperti dirinya. Bahkan ia bersiap memberikan hatinya untuk Andika bila laki-laki itu memintanya.
***
Lena menatap laki-laki yang sering membisikkan kata-kata rindu padanya. Tubuhnya sudah membujur kaku. Matanya tidak dapat memandangnya penuh cinta. Bibir pucatnya tak lagi mengumandangkan lagu-lagu rindu untuknya.
Lena menangis histeris di sisi tubuh laki-laki yang terbungkus kain jarik. Tubuhnya kembali lunglai. Ia sampai harus dipapah ke kamar. Semua keluarga memandangnya penuh tanya padanya. Semua teman-temannya yang banyak hadir menatapnya penuh hina. Lena tak mau peduli. Ia meratap sambil memanggil-manggil nama Andika. Andai malam kemarin ia mau bertemu Andika yang membawakan oleh-oleh dari Solo. Andaikan kemarin ia mau menerima telepon Andika dan menekan rasa cemburunya. Andaikan kemarin ia mau membalas pesan-pesan Andika yang penuh cinta. Andaikan kemarin ia mau jujur kalau dirinya punya seribu rindu untuk laki-laki itu. Seribu kata andai menjejal di kepalanya. Hingga akhirnya ia pingsan karena tak kuat menahan beban cinta yang belum tersampaikan.
Lena tidak tahu betapa tatapan Rio begitu terluka melihat wanita yang dikasihinya secara terang-terangan meratap seperti orang kerasukan setan ke jasad Andika.
***
“Lena, makan bubur ayamnya, ya. Ini bubur ayam kesukaanmu, loh.”
Lena menatap laki-laki berambut abu-abu di sisi tempat tidurnya, yang tengah memegang mangkok berisi bubur ayam. Entah, kemana perginya cinta yang pernah ia berikan ke laki-laki yang selama dua puluh tiga tahun ini menjadi suaminya. Rasa yang dulu ada terasa hampa sejak kehadiran Andika dalam hidupnya. Cintanya sejenak beralih ke Andika yang kini telah tiada.
Samar-samar ia mendengar nyanyian dari radio yang mengalun menyayat hati.
Ku ingin
saat ini, engkau ada di sini
Tertawa bersamaku, seperti dulu lagi
Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah
Bukannya diri ini tak terima kenyataan
Hati ini hanya rindu
(Andmes)
Perlahan air mata Lena mengalir di pipinya. Bukannya aku tidak ikhlas atas kepergianmu, Dika, saat ini Aku hanya rindu padamu. Mungkin akan selalu rindu.

Komentar
Posting Komentar